Kamis, 21 Desember 2017

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL LAHAN BASAH SUKU BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah dimana tempat tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen atau musiman. Wilayah- wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal.
Kearifan lokal adalah tatanan sosial budaya dalam bentuk pengetahuan, norma, peraturan dan keterampilan masyarakat di suatu wilayah untuk memenuhi kebutuhan (hidup) bersama yang diwariskan secara turun temurun. Kearifan lokal merupakan modal sosial yang dikembangkan masyarakat untuk menciptakan keteraturan dan keseimbangan antara kehidupan sosial budaya masyarakat dengan kelestarian sumber daya alam di sekitarnya.
Suku Banjar merupakan kelompok mayoritas yang mendiami wilayah Kalimantan Selatan. Pada awalnya kelompok ini banyak menempati wilayah pesisir dengan mata pencaharian utama berdagang. Namun belakangan, suku Banjar juga mulai menempati wilayah-wilayah pedalaman di sekitar pegunungan Meratus untuk menjalani kehidupan sebagai petani karet atau berladang sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Meratus pada umumnya.
Wilayah Kalimantan selatan identik sekali dengan lahan basah dan berbagai kearifan lokal masyarakatnya yang sebagian besar dikelilingi oleh sungai-sungai besar maupun sungai-sungai kecil. Hal ini menjadi keunikan tersendiri dari Kalimantan selatan yang menghasilkan bermacam kearifan local dan nilai yang ditanamkannya. Dari banyaknya  kearifan lokal tersebut terdapat beberapa nilai yaitu :
1.         Gotong Royong

Masyarakat banjar sangat menjunjung tinggi nilai gotong royong yang hhal terseebut terefleksikan pada adat perkawinan masyarakat banjar. Masyarakat banjar cenderung untuk memasak sendiri dan memanggil orang-orang sekitar untuk membantu jalannya proses upacara perkawinan tanpa harus memesan catering untuk sajian di pesta perkawinan suku banjar.
Contoh bentuk kearifan lokal : upacara “Bapangantinan” di Kandangan Kalimanatan selatan
2.         Ramah tamah

Selain gotong royong masyarakat suku banjar merupakan masyarakat yang ramah dan mudah diajak bercanda. Masyarakat suku banjar sangat identik dengan keramahannya dalam hal berdagang
Contoh bentuk kearifan lokal : Kesenian Bemadihinan Banjarmasin, pasar terapung
3.         Religius

Masyarakat suku banjar juga dikenal sebagai orang yang taat beribadah dan senang mengikuti pengajian-pengajian, mayoritas agama suku banjar adalah islam.
Contoh bentuk kearifan lokal : “Ba’ayan Maulid”
4.         Kelestarian ekologi

Dalam hal bercocok tanam masyarakat menanam padi (Bahuma) hanya setahun sekali, hanya pada “musim behuma” . Beras dikalimantan selatan hanya bisa ditanam pada musim-musim tertentu saja dan faktor jenis tanah menjadi penyebabnya.
5.         Toleransi

Masyarakat banjar juga tekenal dengan budaya toleransi nya dalam berbagai hal, masyarakat banjar sangat menerima orang luar dengan ramah maupun juga dalam hal aspek beragama

Demikian identifikasi nilai-nilai kearifan lahan basah khususnya pada suku banjar yang agar sebagai generasi selanjutnya mampu mempertahankan dan menjaganya juga menciptakan inovasi-inovasi baru.
 
DAFTAR PUSTAKA

 Widya Fransiska F Anwar1; Setyo Nugroho2, Jurnal Perspektif Arsitektur │Volume 10 / No.1, Juli 2015 56 Issn 1907 - 8536   Pengendalian Pembangunan Lahan Basah Berbasis Preferensi Penghuni Merubah Disain Rumah Panggung. Diakses pada sabtu 23 juni 2017 18.00 PM
Alfisyah, Dkk, Artikel Ilmiah, Kearifan Religi Masyarakat Banjar Pahuluan, FKIP Unlam Banjarmasin. Diakses Pada 23 Juni 2017


Deny Hidayati,  Jurnal Kependudukan Indonesia Vol. 11 No. 1 Juni 2016 | 39-48  E-Issn : 2502-8537 (Online)  Memudarnya Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air. Di akses pada 23 juni 2017
HASIL BELAJAR YANG JARANG TERUKUR PADA ASPEK INTELEKTUAL DAN KOGNITIF

A.        Aspek Keterampilan Intelektual

            Dalam proses belajar mengajar yang menekankan konstruksi pengetahuan, kegiatan utama yang berlangsung adalah berpikir atau mengembangkan keterampilan intelektual. Karena itu pengorganisasian materi pembelajaran dilakukan dengan menggunakan keterampilan intelektual untuk mengembangkan suatu eksplanasi.
            Keterampilan intelektual adalah kemampuan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah. Dalam proses pembelajaran, pengetahuan bersumber dari materi subyek. Elaborasi terhadap materi subyek dilakukan menurut aturan intelektual yang elemennya adalah keterampilan intelektual (Siregar, 1998 dalam Farida, 2009).
            Keterampilan intelektual dapat menunjukkan bagaimana guru mengorganisasikan materi subyek secara logis. Pengorganisasian materi subyek dilaksanakan berdasarkan jenis-jenis tindakan wacana yang dilakukan guru selama proses pembelajaran
            Gagne mengatakan (dalam Slameto, 2003), “kemampuan intelektual adalah manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan simbol–simbol”. Kemampuan belajar cara inilah yang disebut “kemampuan intelektual”, misalnya membedakan huruf m dan n, menyebut tanaman yang sejenis.
B.        Strategi Kognitif

            Strategi kognitif (Gagne, 1974) adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.5 Kemampuan strategi kognitif menyebabkan proses berpikir unik di dalam menganalisis, memecahkan masalah, dan di dalam mengambil keputusan.
            Kemampuan dan keunikan berpikir tersebut sebagai executive control, atau disebut dengan control tingkat tinggi, yaitu analisis yang tajam, tepat dan akurat. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan dunia politik Indonesia kini, mereka yang memiliki kemampuan kognisi yang tinggi akan sangat mudah memecahkan masalah akan tetapi begitu mudah pula membalik fakta, konsep, dan prinsip atas kepentingan politik yang mereka dukung, demikian 5 ‘Ibid hlm. 5. 16 sebaliknya kemampuan kognisi rendah mereka tiada pernah mengambil terobosan hanya pak turut saja.
C.        Hasil Belajar Yang Jarang Terukur Pada Kemampuan Intelektual Dan Strategi Kognitif Bidang Akademik
            Konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar
            Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari pengajar (guru),  seperti yang dikemukakan oleh Sudjana..
            Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).
            Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
            Namun ada sebagian aspek pada hasil belajar yang jarang diukur oleh para guru untuk dijadikan bahan penilaian sehingga aspek tersebut terkesan diabaikan karena guru hanya berpatok pada hasil kerja para siswa tanpa menganalisis kemampuan/ bakat siswa dibidang lain. Berikut aspek-aspek yang sering tidak terukur dalam kemampuan intelektual maupun strategi kognitif dibidang akademis :
•           Fakta
            Hasil kadang jauh berbeda dengan fakta dilapangan, seorang guru terkadang hanya terpaku kepada hasil belajar intelektual para peserta didiknya saja. Sebagai contoh saja seorang anak didik yang mrndapat nilai tinggi tapi dengan melakukan kecurangan dan tidak diketahuhi oleh gurunya.
            Dalam kaitanya dengan strategi kognitif dalam pembelajaranpun juga jarang diperhatikan oleh guru, Jika strategi kognitif dilaksanakan secara konsekuen dan ditunjang dengan fasilitas belajar yang memadai maka proses belajar dan pembelajran dapat membawa hasil, di mana peserta didik dapat menyelesaikan pendidikannya dengan hasil sebagaimana diharapkan yang signifikan dan dengan waktu yang lebih pendek juga karena dengan strategi kognifit para siswa juga dapat melalui jenjang pendidikan secara aklerasi.
•           Konsep
            Ada banyak sekali konsep pembelajaran yang diterapkan khususnya di Indonesia yang juga sering diabaikan oleh para guru. Diantara bermacam-macam konep dalam belajar dan pembelajaran sangat sedikit guru-guruyang konsosten utuk memakai konsep dan menerapkan kepada peserta didik
            Sangat penting tentunya bahwa konsep agar dapat meatangkan strategi kognitif pbagi para peserta didik dilakukan dan dengan pengawasan serta bimbingan agar peserta didik mampu dengan baik memecahkan masalah yang terjadi di jenajng pendidikan dan mampu melaluinya.
•           Prinsip
            Prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran teori dan prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat dalam memberi penilaian pada hasil belajar kemampuan intelektual dan strategi kognitif. Selain itu juga berguna untuk mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.
            Prinsip-prinsip pembelajaran adalah bagian terpenting yang wajib diketahui para pengajar sehingga mereka bisa memahami lebih dalam prinsip tersebut dan seorang pengajar bisa membuat acuan yang tepat dalam pembelajarannya. Dengan begitu pembelajaran yang dilakukan akan jauh lebih efektif serta bisa mencapai target tujuan.

•           Prosedur
            Untuk mendapatkan hasil belajar yang memuaskan harus ada perna dari guru dan peserta didik dengan prosedur belajar dan pembelajaran yang efektif dan sesuai. Hal ini pun jarang diukur karena dirasa kurang terlalu penting.
D.        Hasil Belajar Yang Jarang Terukur Pada Kemampuan Intelektual Dan Strategi Kognitif Bidang Non Akademik
            Menurut saya pribadi, keberhasilan di bidang non-akademik adalah bakat yang alamiah dan tidak semua peserta didik memilikinya karena itu adalah gift and talent, yang memang dirahmatkan Sang Pencipta kepada para siswa ini. Kadang-kadang teman-teman guru hanya memandang bahwa siswa itu “baik” karena penurut dalam kelas, rajin mengikuti pelajaran, pandai berdiskusi dan argumen, nilai ulangannya bagus (karena rajin mengikuti les), semestinya keberhasilan siswa juga dipandang dari segi kinestetik, estetika atau menurut cara pandang holistik, bahwa pendidikan kepada para peserta didik harus diamati secara menyeluruh bukan bagian demi bagian.
            Terkadang hasil dari belajar dari non akademis merupakan sebuah prestasi yang dicapai dengan kemampuan strategi kognitif yang dibarengi dengan kemampuan intelek namun kadang para individu yang belajar pada non akademik ini sering kurang memperhatikan dan mengukur konsep seperti berikut :
•           Problem solving / pemecahan masalah
            alam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
            Penyelesaian masalah merupakan proses dari menerima tantangan dan usaha – usaha untuk menyelesaikannya sampai menemukan penyelesaiannya. menurut Syaiful  Bahri Djamara (2006 : 103) bahwa :
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
            Hal ini kurang menjadi bahan ukuran untuk mengembangkan kemampuan inteektual dan strategi pengembangan kognitif karena individu lebih sering hanya terpaku pada hasil.
•           Creative Thinking / Berpikir Kreatif
            Berpikir kreatif angat diperlukan agar seorang individu bisa selalu menghasilkan sesuatu yang baru dan selalu mengembangkan sesuatu yang sudah ada dan inilah yang sering kurang mendapat perhatian karena individu hanya terpaku oleh bagaimana mendapatkan hasil pembelajaran maksiamal dengan usaha yang seminimal mungkin.
            Untuk itulah agar dapat mengembangkan pola pikir yang kreatif hendaknya mengimbangi belajar kemampuan akdemik dan non akademik agar tidak hanya soft skill saja yang diapatkan tetapi juga hard skills yang tidak didapat pada bangku akademik.
•           Decision Maker / Membuat Keputusan
            Biasanya seorang individu sangat sulit untuk membuat keputusan karena pada keputusan tersebut terdapat pilihan-pilihan yang berat. Didalam bidang non akademis seperti ekstrakulikuler ataupun organisasi-organisasi.
•           Collaboration / Berkolaborasi
            Disekolah / pendidikan akademik kita lebih mencondongkan kepada belajar bersama / berkolaborasi namun hal ini jarang menjadi penilaian sebagai hasil akhir dari pembelajaran. Padahal kolaborasi/ kerja sama sangat mempengaruhi juga kepada hasil pembelajaran seorang pserta didik. Pada bidang non akademik yang menekankan keapda perkembangan strategi kognitf lah dimana tempat agar para individu diajarkan dan dilatih untuk bekerjasama dan berorganisasi.
•           Learning How To Learn / Belajar Bagaimana Belajar
            Sering kali pada pendidikan non akademis belajar untuk belajar ini diabaikan begitu saja kebanyakan hanya langsung ke praktik lapangan pada dasarnya belajar dengn teori pada non akademik juga sangat mempengaruhi.
            Untuk itu sangat diperlukan keseimbangan antara konsep-konsep kemampuan akademik dan strategi kognitif dalam penilaian hasil belajar para siswa guru jangan hanya terpaku pada nilai selembar kertas diharapkan seorang guru lebih kreatif dalam menyampaikan pembelajaran sehingga para peserta didik terstimulus agar dapat mengembangkan pengetahuan intelektual dan strategi kognitif.















DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unila.ac.id/686/7/BAB%20I.pdf Jurnal Diakses pada jum’at 19 Oktober 2017
Sukmadinata N. S. 2005, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya
Sumiati & Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung. CV. Wacana Prima
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensido Offset
Sagala, Syaiful, (2012), Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta

http://guraru.org/guru-berbagi/pentingnya-sofskill/ diakses pada jum’at 19 oktober 2017
TEN MEGA TREND OF THINKING DEVELOPMENT WITH LIFE LONG LEARNING CONCEPT

Konsep asas pendidikan seumur hidup merumuskan bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses lanjutan yang dimulai sejak seseorang dilahirkan sampai saat seseorang tersebut meninggal dunia. Konsep pendidikan seumur hidup ini pun juga didukung oleh pemerintah oleh dasar-dasar :
1.         Menurut GBHN 1978 dinyatakan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat sehingga pendidikan seumur hidup merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah
2.         Konsep manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep dasar tujuan pendidikan nasional yaitu yang tertuang pada UU Nomor 2 tahun 1989 Pasal 4 yakni pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Konsep teori pendidikan seumur hidup ini bertujuan untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembaurannya seoptimal mungkin. Berawal dari  sejarahnya yaitu pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir. Konsep pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Agama Islam, yang sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad”
Konsep “long live educations” akan tercapai apabila seseorang mampu mengembangkan pemikiran berdasarkan “Ten Mega Grand”. Adapun Ten Mega Grand itu sendiri ialah :
1.         Belajar Melalui Kehidupan

            Segala hal yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari merupakan pembelajaran bagi individu, yang mana dari pengalaman hidup manusia akan terus belajar. Belajar melalui pengalaman hidup ini sangat sesuai dengan konsep long live learning.
            Pelajaran yang terpisah dari pengalaman sehari-hari, hanya akan didengar, dan tentu saja akan membuat seseorang mudah lupa. Tetapi belajar sesuatu yang dapat kita lihat, apalagi sering dijumpai dalam hidup sehari-hari akan membuat kita ingat. Apalagi saat hal tersebut bisa dilakukan  sendiri, akan benar-benar membuat seorang pembelajar menjadi paham.
“Mendengar saya lupa, melihat saya ingat, melakukan saya paham, menemukan sendiri saya kuasai” (Confucius)
            Untuk itu perlu disadari bahwa selama manusia hidup manusia akan terus belajar dan belajar sehingga konsep long live learning sangat berkesinambungan dengan cara belajar melalui kehidupan.
            Contoh kecil dari belajar melalui kehidupan ialah pada seorang bayi yang belajar merangkak kemudian berjalan dan berbicara hingga belajar untuk megembangkan pola pikir di bidang intelektual nya sampai akhir masa hidupnya.

2.         Belajar dalam Organisasi, Asosiasi, dan Jaringan

            Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara juga sebagai pengembangan diri individu.
            Asosiasi merupakan proses intraksi yang mendasari terbentuknya lembaga-lembaga sosial. Berbagai asosiasi dapat ditemukan dalam masyarakat contohnya asosiasi pengusaha muda Ikatan Dokter Indonesia.
            Melalui organisasi yang diikuti individu akan belajar bagaimana caranya bersosialisasi dan hal ini akan membantu seorang individu untuk memasuki dunia kerja dan melaui organisasi ini individu akan memiliki serangkaian kegiatan dan dapat menambah jaringan yang juga diharapkan terjalinnya kerjasama antar individu yang dapat menguntungkan kedua belah pihak
            Di dalam organisasi ataupun asosiasi-asosiasi seorang individu juga akan dilatih/ diberi Stimulus Respons utuk mengembangkan bakat serta kreativitas, melatih tanggung jawab,dan bekerja keras.
            Contohnya pada mahasiswa yang mengikuti organisasi yang dinaungi  instansi resmi dalam mengasah bakat kemampuan serta kreativitas berkaitan dengan organisasi yang diikuti
3.         Belajar berfokus pada kebutuhan yang nyata
            Belajar berfokus pada kebutuhan yang nyata yang berfokus pada satu kebutuhan nyata yang dibutuhkan individu pada saat itu. Belajar hanya dengan berfokus pada tujuan tertentu ini mampu meningkatkan kemampuan intelektual dan dengan cepat mengembangkan skill/ pengetahuan dalam bidang tertentu.
Contoh seorang individu yang akan menghadapi ujian mata pelajaran matematika harus berfokus dan hanya belajar matematika karena yang akan dihadapinya besok hari adalah ujian matematika
4.         Belajar dengan kemampuan otak

            Belajar dengan kemampuan otak merupakan pembelajaran yang didasari dengan kemampuan berpikir yang dilatih sehingga otak kita terlatih dan berkembang Otak menyimpan informasi dengan menggunakan asosiasi. Apabila ada penguatan informasi lama dan penambahan informasi baru maka sel-sel otak segera berkembang membentuk hubungan-hubungan baru. Semakin banyak jalinan saraf terbentuk, semakin lama dan kuat informasi itu disimpan.
Belajar merupakan interaksi antara keadaan internal dan proses kognitif siswa dengan stimulus dari lingkungan. Untuk dikatakan berhasilnya proses pembelajaran, maka cara kerja otak tersebut menghasilkan hasil belajar. Hasil belajar tersebut terdiri dari:
1.         Informasi verbal, kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan atau tertulis.
2.         Keterampilan intelektual, kecakapan yang berguna untuk berhubungan dengan lingkungan hidup.
3.         Strategi kognitif,  Kemampuan menyalurkan dan mengarahkan akivitas kognitifnya sendiri.
4.         Keterampilan motorik, kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani
5.         Sikap, kemampuan menerima atau menolak obyek berdasakan penilaian terhadap obyek tesebut.
Penerapan lainnya adalah dengan cara kita meningkatkan atau memaksimalkan kinerja otak dengan mengasah otak atau meningkatkan konsentrasi otak. Semakin sering di asah, otak kita akan cenderung lebih tangkap dalam menerima informasi. Dengan begitu akan memudahkan kita menerima segala proses pembelajaran jika otak kita siap untuk menerima pemikiran dari luar dan juga untuk mamancarkan pemikiran kepada otak orang lain.
Dalam hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya peran kerja otak bagi proses pembelajaran seorang individu. Maka jangan biarkan kerja otak menjadi lengah sehingga tanpa sadar terdapat kekosongan dan kelambanan dalam hal berfikir. Tidak benar jika otak semakin dipenuhi dengan pengetahuan akan overload dan merusak syaraf-syaraf otak, sebaliknya jika semakin dilatih maka akan sangat baik untuk kerja otak
5.         Belajar bersama

Belajar bersama merupakan suatu kegiatan kelompok belajar kegiatan belajar yang dilakukan bersama – sama guna menyelesaiakan persoalan – persoalan yang berkaitan dengan belajar.
Pembentukan kelompok belajar ini bertujuan untuk melatih bersosialisasi, cooperative atau belajar bekerjasama
Contoh : individu yang membuat kelompok belajar untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah
6.         Belajar melalui Media, Tekhnologi, Format dan Gaya
            Di era globalisasi ini sudah sewajarnya tekhnologi juga berkembang dengan pesat banyaknya situs-situs pendidikan membuat individu menjadi lebih mudah untuk mendapatkan informasi dalam hal belajar secara lebih cepat dan efisien..
            Makin maju media tekhnologi makin banyak informasi yang didapat dengan berbagai macam format dan gaya yang sudah tersedia di media sosial, situs, maupun tekhnologi pengembang lainnya.
            Belajar melalui media mutakhir sangat berperan positif untuk perkembangan individu dengan cepatnya jaringan internet segala informasi dengan cepat bisa diakses dan bahkan bersifat mendunia (global). Contoh dari belajar melalui Media, Tekhnologi, Format dan Gaya ialah seorang individu yang membuat/ membaca artikel-artikel ilmiah dan kamudian mengembangkannya dan membuatnya dengan gaya dan format yang baru.
7.         Belajar langsung dan berpikir
Belajar langsung juga merupakan belajar dari pengalaman yang terjadi sehingga individu secara tidak langsung mempelajari dari pengalaman yang ada dan juga mampu mengembangkan pemikiran kedepan serta belajar dari pengalaman secara langsung dan mampu berpikir kedepan.
Contoh seorang individu yang belajar cara menanam buah-buahan yang mempraktekan langsung cara menanam dan kemudian mampu meningkatkan kualitas produk dengan cara berpikir kedepan dan mengembangkan inovasi.
8.         Belajar melalui pengajaran/ pembelajaran
            Belajar melalui pengajaran atau pembelajaran ini merupakan suatu kegiatan yang dalam rangka mengembangkan pengetahuan intelektual ataupun softskills melalui lembaga pendidikan formal maupun nonformal
            Sebagai contoh seorang individu yang belajar di bangku sekolah formal yang mengikuti segala kegiatan pengajaran dan pembelajaran yang bertujuan untuk mencerdaskan individu tersebut.
9.         Belajar melalui sistem pendidikan kita yang akan berubah cepat, atau lambat untuk membantu kita belajar.
            Pada masa sekarang ini kurikulum di Indonesia sudah mengalami beberapa kali perubahan dan yang terbaru dari kurikulum KTSP 2006 menjadi K13 / Kurikulum 2013 hal ini memaksa para siswa untuk beradaptasi dan belajar pada sistem pendidikan yang baru.
            Perubahan kurikulum diindonesia termasuk cepat berubah dari 2006 ke 2013 dan Belum sempurna kurikulum 2013 dilaksanakan di Indonesia, kini pemerintah merencanakan lagi sebuah perubahan kurikulum yaitu kurikulum nasional yang akan dilaksanakan mulai tahun 2018. Meskipun sosialisasi kurikulum nasional belum dilaksanakan karena masih dalam tahap perbaikan kurikulum 2013.
            Untuk itu kita dituntut untuk siap menerima perubahan dan mampu bersaing secara global agar tidak tertinggal dengan anak bangsa asing yang sudah maju.
Contoh : perubahan dari sistem kurikulum KTSP 2006 menjadi K13/ Kurikulum 2013
10.       Belajar bagaimana belajar
            Individu  butuh belajar yang didapat dan diperoleh melalui guru, buku, majalah, surat kabar, internet, bahkan alam / pengalaman dan belajar sendiri harus didasari motivasi dan inovasi agar individu tersebut tidak merasa bosan dengan pembelajaran-pembelajaran yang sedang di tempuh.
            Dalam  hal  belajar seorang individu  perlu juga belajar bagaimana belajar. Hal yang dimaksudkan ialah belajar bagaimana memahami konsep ilmu dengan inovasi dan kreasi baru agar optimalnya perkembangan intelektual individu tersebut dan memperbaiki kualitas cara belajar.
            Proses belajar juga tidak hanya melalui pemahaman, penghapalan, dananalisis, namun juga melalui observasi, imajinasi, eksplorasi, dan refleksi.Proses belajar tidak hanya menekankan pada materi pelajaran, tapi  juga proses  yang  menekankan  belajar bagaimana belajar. Proses  belajar yang mengisolasi satu kecerdasan dari kecerdasan yang lain diubah menjadi proses belajar yang mengembangkan semua kecerdasan secara simultan.
            Sebagaimana contoh seorang individu yang membaca resep masakan yang kemudian pada kegiatan membaca tersebut merupakan pembelajaran tidak langsung yang kemudian tertarik untuk belajar membuat makanan yang ada diresep serta mengembangkan masakan sesuai dengan kreasinya sendiri














DAFTAR PUSTAKA

Haryato, Pendidikan Seumur Hidup │ISSN 1829-765X, Jurnal Diakses pada jum’at 29 September 2017 22.25 PM
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2006. POLBANGMAWA (Pola Perkembangan Kemahasiswaan). Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
I Ketut Sudarsana, Pemikiran Tokoh Pendidikan Dalam Buku Lifelong Learning: Policies, Practices, And Programs (Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan Di Indonesia) │Jurnal Penjaminan Mutu. Diakses pada jum’at 29 September 2017 22.44 PM

Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya
Budiningsih, Asri. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta
http://www.matrapendidikan.com/2015/05/belajar-kebutuhan-atau-kewajiban.html Diakses pada Jum’at 29 September 2017 23.11
ociozine.com/opini/belajar-untuk-belajar/ Diakses pada sabtu 30 September 2017 11.00 AM

http://www.kompasiana.com/rarah/efektivitas-perubahan-kurikulum-di indonesia_57380b19b47e61c316b69835 Diakses Pada Sabtu 30 September 2017 15.00 AM
PENTINGNYA  PENDIDIKAN  PADA  ANAK  USIA DINI  BAGI  TUMBUH  KEMBANG  ANAK

            Pendidikan  merupakan  suatu  hal  yang  sangat  penting  bagi  kesejahteraan  anak  dan  berkontribusi  terhadap  penurunan  kemiskinan  dan  ketidaksetaraan. Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) menjelaskan  tentang  pendidikan  yaitu: “Pendidikan  umumnya  berarti  daya  upaya  untuk  memajukan  budi  pekerti ( karakter,  kekuatan,  bathin), pikiran (intellect) dan  jasmani  anak-anak  selaras  dengan  alam dan  masyarakatnya”.  Pendidikan  juga  merupakan  asset  penting  dalam  sebuah  negara  oleh  sebab  itu  setiap warga  Negara  wajib  menjalankan  pendidikan  baik  pada  jenjang   Pedidikan  Anak  Usia  Dini,  Sekolah  Dasar, Sekolah Menengah Atas, ataupun Perguruan Tinggi. Ada  juga  yang  mengatakan  bahwa pendidikan  berlangsung  seumur  hidup  manusia  seperti  yang  di  sebutkan  oleh Lev Vygotsky  “Pembelajaran  dan  Perkembangan  merupakan  dua  hal  yang  saling  berkaitan sejak  hari  pertama  kehidupan  manusia”
Untuk  saat  ini  kebanyakan  para  orang  tua  melewati  Pendidikan  Anak  Usia  Dini  ( PAUD ) dan  langsung  memasukan  anak  ke Sekolah  Dasar.  Padahal  sangat  penting  untuk  memasukan  anak  ke Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) agar  anak  terbiasa  dengan lingkungan  pendidikan  dan  mengembangkan  pola  pikir  anak mengenai  pendidikan  sejak  usia  dini  mutlak  diperlukan. Dan  lagi  pula,  program-program  Pendidikan  Anak   Usia   Dini telah  terbukti  mampu  membantu  mengembangkan  kompetensi  psikososial  dan  kognitif  untuk  mempersiapkan  anak –anak  bersekolah , dengan  kemudian  melibatkan  anak  dalam  program-program  tersebut  dalam  waktu  minimal  1  tahun.
Hasil penelitian Herawati ( 2002) di Bogor menemukan bahwa dari 265 keluarga yang diteliti hanya 15% yang mengetahui program BKB, factor lain adalah rendahnya partisipasi orang tua dalam program BKB. Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan bagi anak usia dini saat ini antara lain disebabkan masih terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan dini jika dibanding dengan jumlah anak usia 0-6 tahun yang seharusnya memperoleh layanan tersebut. Berbagai program yang ada baik langsung (melalui Bina Keluarga Balita dan Posyandu) yang telah ditempuh selama ini ternyata belum memberikan layanan secara utuh, belum bersinergi dan belum terintegrasi pelayanannya antara aspek pendidikan, kesehatan dan gizi. Padahal ketiga aspek tersebut sangat menentukan tingkat intelektualitas, kecerdasan dan tumbuh kembang anak. Pada lembaga pendidikan anak usia dini, kini sudah mengajarkan anak tentang dasar-dasar dalam cara belajar.
Padahal  Indonesia  memiliki  PAUD  yang  beragam,  mulai  dari  Pra-Sekolah, dan  TK Formal   yang  melayani  anak  usia  4-6  tahun  sampai  Kelompok  Bermain  Non-Formal  dan Pusat  Penitipan  anak , yang  melayani  anak  usia  2-6  tahun  yang  tidak  terlayani  oleh  lembaga  formal .
Anak  usia  dini  adalah  anak-anak  yang  berusia  dibawah  usia  6 tahun.  Masa  ini  sering  disebut  masa-masa  keemasan  atau  “golden age”  karena  masa  ini  yang  menentukan  bagaimana  kelak  mereka  seperti  apa  baik  segi  hal  fisik,  mental  ataupun  kecerdasan  intelegen  dalam  fase  ini  anak-anak  dapat  menyerap  informasi  sebanyak  banyaknya.  Pada masa  ini  anak  mulai   peka  atau  sensitive  terhadap  penerimaan  berbagai  rangsangan. Kepekaan  ini  pada  anak  berbeda-beda tergantung  perkembangan  individu  masing-masing.
Masa  peka  adalah  masa  yang  dimana  terjadinya  kematangan  fungsi  fisik  dan  psikis  yang  siap  merespon  stimulasi  yang  diberikan  oleh  lingkungan.  Masa  ini  juga  merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional , agama  dan  moral.  Perlu  diketahui  bahwa  anak  memiliki  kemampuan  yang  perlu  diasah  sejak  dini  namun  banyak  orang  tua  yang  menganggap  pendidikan  pada  usia  dini  tidak  begitu  penting  dengan  alasan  yang  berbagai  macam  padahal  sebagian  besar  pembentukan  karakter  manusia  itu  dimulai  dari  usia  0  sampai  dengan 3  tahun.. 
Pendidikan  bagi  anak usia  dini  adalah  pemberian  upaya  untuk  menstimulasi ,  membimbing , mengasuh  dan  pemberian  kegiatan  pembelajaran  yang  akan  menghasilkan  kemampuan dan  ketrampilan  anak.  Pendidikan  anak  usia  dini  merupakan salah  satu  bentuk  penyelenggaraan  pendidikan  yang  menitik  beratkan  pada  peletakan  dasar  ke  arah  pertumbuhan  dan  perkembangan  fisik ( koordinasi  motorik  halus  dan  kasar ),  kecerdasan,  daya  cipta ,  kecerdasan  emosi , dan  kecerdasan  spititual.   Pendidikan  anak  usia  dini  yang orang  tua  berikan  bagi  anak  merupakan  suatu  persiapan  kematangan  anak  dalam menghadapi  masa  demi  masa  untuk  perkembangannya  di  masa  yang  akan  datang.  Saat  ini telah  banyak  berbagai  sekolah  taman  kanak-kanak  memberikan  pendidikan  yang  baik dan  berkualitas  demi  mengembangkan  kemampuan  dan  bakat  dalam  diri  anak  tersebut. Oleh karena  itu , diperlukan  usaha  dan  orangtua  dalam  mengajar  dan  mendidik  anak  terutama dalam  membaca. Mengajar  anak  membaca  tidak  harus  melihat  berapa  usia  yang   tepat untuk  mengajarkannya. Yang  terpenting disini  adalah  Anda  berusaha  memberikan  yang terbaik  dalam  pendidikannya  kelak. 
Tidak  hanya  pendidikan  formal  yang  diberikan  kepada  anak-anak , tapi  pendidikan non-formal  pun  tidak  kalah  penting  untuk  meningkatkan  kreatifitas  dan  disiplin  waktu. Meskipun  kadang  orang  tua  merasa  bahwa  bakat  atau  kemampuan  anak  itu  belum  terlihat.  Tapi  tidak  ada  salahnya  anak-anak  usia  dini  diperkenalkan  dengan  berbagai  macam  kegiatan  non-formal  seperti  les  tari  balet ,  les  music ,  klub  sepak  bola  anak,  dan masih  banyak  lagi .
Umumnya,  pada  usia  4  tahun  si  kecil  baru  mulai  memasuki  TK (Taman  Kanak-kanak). Baik  TK  yang  biasa  atau  TK  Al Quran  yang  dikenal  dengan  TKA (Taman Kanak-kanak Al Quran)  atau  TPQ (Taman  Pendidikan  Al Quran). Itu  artinya, sebagian  tanggung   jawab pendidikan  anak  terlimpahkan  pada  para  guru TK  tersebut.  Namun  demikian,  adalah  salah besar  apabila  orang  tua  menyerahkan  pendidikan  anak  100%  pada  lembaga  pendidikan.  Kegagalan  pendidikan kepribadian anak kebanyakan karena kegagalan pendidikan dalam rumah; yakni pendidikan orang tua.  Dalam konteks pendidikan orang tua, ibulah yang paling memegang peranan penting. Oleh karena itu, sukses tidaknya masa depan anak dan baik buruknya kepribadiannya, akan sangat tergantung seberapa peran ibu dalam proses pendidikannya. Terutama dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) yakni usia 0 – 6 tahun dan 6 – 16 (usia SD SMP). Tentu saja peran ayah tak kalah pentingnya, terutama dalam proses pembangunan kepribadian (character building).
Sebagian  ahli  menilai  bahwa  usia  3  tahun  adalah  usia  bagi  anak  dengan  tingkat  aktivitas  tertinggi  dari  seluruh  masa  hidup  manusia.  Sebab  tingkat  aktivitas  yang  tinggi  dan  perkembangan  otot  besar  mereka  ( lengan  dan  kaki )  maka  anak-anak  pra-sekolah  perlu  olah  raga  seharĂ­-hari .
Adapun  perkembangan  keterampilan  motorik  halus  dapat  dilihat  pada  usia  3  tahun  yakni  kemampuan  anak-anak  masih  terkait  dengan  kemampuan  bayi untuk  menempatkan  dan  memegang  benda-benda. Pada  usia  4  tahun,  koordinasi  motorik  halus  anak-anak  telah  semakin  meningkat  dan  menjadi  lebih  tepat  seperti  bermain  balok,  kadang  sulit  menyusun  balok  sampai  tinggi  sebab  khawatir  tidak  akan  sempurna susunannya. 
Sedangkan  pada  usia  5  tahun ,  mereka  sudah  memiliki  koordinasi  mata  yang bagus  dengan  memadukan  tangan,  lengan,  dan  anggota  tubuh  lainnya  untuk  bergerak . Hal ini  tidak  terlepas  dari  ciri  anak  yang  selalu  bergerak  dan  selalu  ingin bermain  sebab  dunia  mereka  adalah  dunia  bermain  dan  merupakan  proses  belajar . 
Mulai  sejak  si  anak membuka  mata  di  waktu  pagi  sampai  menutup  mata  kembali  di  waktu  malam, semua kegiatannya  dilalui  dengan  bergerak , baik  bolak  balik , berjingkrak,  berlari  maupun  melompat.  Dalam  kaitan  ini,  anak  bukanlah  miniature  orang  dewasa  karena  mereka  melakukan  aktivitas  berdasarkan  kematangan  dan  kemampuan  yang  sesuai  usianya.
Masalah  yang  sering  dihadapi  saat  ini  ialah  seberapa pentingkah  pendidikan  anak  usia  dini  pada  saat  ini  ?
            Dalam  hal  keterkaitan  pertanyaan  tersebut Berdasarkan  hasil penelitian  sekitar  50%  kapabilitaas  kecerdasan  orang  dewasa  telah  terjadi  ketika  anak  berumur  4  tahun, 80%  telah  terjadi  perkembangan  yang  pesat  tentang jaringan  otak  ketika  anak  berumur  8  tahun  dan  mencapai  puncaknya  ketika  anak  berumur 18  tahun,  dan  setelah  itu  walaupun  dilakukan  perbaikan  nutrisi  tidak  akan  berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
            Hal  ini  berarti  bahwa  perkembangan  yang  terjadi  dalam  kurun  waktu  4  tahun  pertama sama  besarnya  dengan  perkembangan  yang  terjadi  pada  kurun  waktu  14  tahun  berikutnya. Sehingga  periode  ini  merupakan  periode  kritis  bagi  anak,  dimana  perkembangan  yang diperoleh  pada  periode  ini  sangat  berpengaruh  terhadap  perkembangan  periode  berikutnya hingga  masa  dewasa .  Sementara  masa  emas  ini  hanya  datang  sekali ,  sehingga  apabila  terlewatkan  berarti  habislah  peluangnya. Untuk  itu  pendidikan  anak  usia  dini  sakan membantu  memberikan  rangsangan  (stimulasi)  dari  lingkungan  terdekat sehingga sangat  diperlukan  untuk  mengoptimalkan  kemampuan  anak. 
Perkembangan motorik kasar seorang anak pada usia 3 tahun adalah melakukan gerakan sederhana seperti berjingkrak, melompat, berlari ke sana ke mari dan ini menunjukkan kebanggaan dan prestasi.
Sedangkan usia 4 tahun, si anak tetap melakukan gerakan yang sama, tetapi sudah berani mengambil resiko seperti jika si anak dapat naik tangga dengan satu kaki lalu dapat turun dengan cara yang sama dan memperhatikan waktupada setiap langkah. Lalu, pada usia 5 tahun si anak lebih percaya diri dengan mencoba untuk berlomba dengan teman sebayanya atau orang tuanya.
Sebagian ahli menilai bahwa usia 3 tahun adalah usia bagi anak dengan tingkat aktivitas tertinggi dari seluruh masa hidup manusia. Sebab tingkat aktivitas yang tinggi dan perkembangan otot besar mereka (lengan dan kaki) maka anak-anak pra sekolah perlu olah raga seharĂ­-hari. Adapun perkembangan keterampilan motorik halus dapat dilihat pada usia 3 tahun yakni kemampuan anak-anak masih terkait dengan kemampuan bayi untuk menempatkan dan memegang benda-benda. Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak-anak telah semakin meningkat dan menjadi lebih tepat seperti bermain balok, kadang sulit menyusun balok sampai tinggi sebab khawatir tidak akan sempurna susunannya.

Sedangkan pada usia 5 tahun, mereka sudah memiliki koordinasi mata yang bagus dengan memadukan tangan, lengan, dan anggota tubuh lainnya untuk bergerak.Hal ini tidak terlepas dari ciri anak yang selalu bergerak dan selalu ingin bermain sebab dunia mereka adalah dunia bermain dan merupakan proses belajar. Mulai sejak si anak membuka mata di waktu pagi sampai menutup mata kembali di waktu malam, semua kegiatannya dilalui dengan bergerak, baik bolak-balik, berjingkrak, berlari maupun melompat. Dalam kaitan ini, anak bukanlah miniatur orang dewasa karena mereka melakukan aktivitas berdasarkan kematangan dan kemampuan yang sesuai usianya.
Karakter seorang anak terbentuk terutama pada saat anak berusia 3 hingga 10 tahun. Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk menentukan input seperti apa yang masuk ke dalam pikirannya, sehingga bisa membentuk karakter anak yang berkualitas. Karakter adalah sesuatu yang dibentuk, dikonstruksi, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya seorang anak.
Anak itu ibarat kanvas putih bersih. Diberi goresan hitam, ia akan menjadi hitam. Diberi goresan kuning, ia akan  menjadi kuning. Atau yang lebih tepat, anak itu ibarat lempung. Dan lembaga PAUD serta orang tua, orang-orang dewasa di sekitarnya, adalah yang membentuk lempung itu. Akan berbentuk apa lempung itu, hal itu tergantung pada orangtua dan pendidikan yang membentuknya. Ini berkaitan dengan bagaimana dan cara yang harus dilakukan agar anak didik dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi dapat menginternalisasi, menjalankan, dan terus menjadikan pegangan dalam kehidupan. Ada 18 karakter yang dapat ditanamkan dalam kehidupan anak-anak. Diantaranya; religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Perkembangan pada anak juga akan menghasilkan perubahan yang bersifat kualitatif yang berfungsi tidaknya organ-organ tubuh. Perkembangan dapat juga dikatakan sebagai suatu urutan perubahan yang bersifat saling mempengaruhi antara aspek-aspek fisik dan psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh, anak diperkenalkan bagaimana cara memegang pensil, membuat huruf-huruf dan diberi latihan oleh orang tuanya. Kemampuan belajar menulis akan mudah dan cepat dikuasai anak apabila proses latihan diberikan pada saat otot-ototnya telah tumbuh dengan sempurna, dan saat untuk memahami bentuk huruf telah diperoleh. Dengan demikian anak akan mampu memegang pensil dan membaca bentuk huruf. Melalui belajar anak akan berkembang, dan akan mampu mempelajari hal-hal yang baru. Perkembangan akan dicapai karena adanya proses belajar, sehingga anak memperoleh pengalaman baru dan menimbulkan perilaku baru.
pada lembaga pendidikan anak mungkin akan :
•           Belajar berkawan dengan teman sebaya. Pada masa ini anak dituntut untuk mampu bergaul, bekerjasama dan membina hubungan baik dengan teman sebaya, saling menolong dan membentuk kepribadian sosial
•           Belajar menguasai keterampilan-keterampilan intelektual dasar yaitu membaca, menulis dan berhitung. Untuk melaksanakan tugasnya di sekolah dan perkembangan belajarnya lebih lanjut, anak pada awal masa ini belajar menguasai kemampuan membaca, menulis dan berhitung.
•           Pengembangan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Agar dapat menyesuaikan diri dan berperilaku sesuai dengan tuntutan dari lingkungannya, anak dituntut telah memiliki konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
•           mengembangkan moral, nilai dan hati nurani. Pada masa ini anak dituntut telah mampu menghargai perbuatan yang sesuai dengan moral dan dapat melakukan kontrol terhadap perilakunya sesuai dengan moral.
•           Memiliki kemerdekaan pribadi. Secara berangsur-angsur anak dituntut memiliki kemerdekaan pribadi. Anak mampu memilih, merencanakan, dan melakukan pekerjaan atau kegiatan tanpa tergantung pada orang tua
•           Mengembangkan Bahasa, yang merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain. Melalui bahasa,anak dapat menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat atau gerak. Gangguan pendengaran dapat membuat kemampuan anak untuk mencocokkan suara dengan huruf menjadi terlambat. Bahasa anak mulai menjadi bahasa orang dewasa setelah anak mencapai usia 3 tahun. Pada saat itu ia sudah mengetahui perbedaan antara ”saya”, ”kamu” dan ”kita”. Pada usia 4-6 tahun kemampuan berbahasa anak akan berkembang sejalan dengan rasa ingin tahu serta sikap antusias yang tinggi, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan dari anak dengan kemampuan bahasanya. Kemampuan berbahasa juga akan terus berkembang sejalan dengan intensitas anak pada teman sebayanya. Dengan memperlihatkan suatu minat yang meningkat terhadap aspek-aspek bahasa tulis, ia senang mengenal kata-kata yang menarik baginya dan mencoba menulis kata yang sering ditemukan. Anak juga senang belajar menulis namanya sendiri atau kata-kata yang berhubungan dengan sesuatu yang bermakna baginya. Antara usia 4 dan 5 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari empat sampai lima kata. Mereka juga mampu menggunakan kata depan seperti ”di bawah”, ”di dalam”, ”di atas” dan ”di samping”. Antara 5 dan 6 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari enam sampai delapan kata. Mereka juga sudah dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dan juga mengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, kata depan dan kata sandang.
•           memiliki minat dan motivasi untuk bergaul
•           Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.
•           Memainkan peran sosial yang dapat diterima
•           Mengembangkan psikomotorik
•           Menambah wawasan dan pengetahuan intellegen
•           Mandiri
Sangat penting untuk memasukan anak kelembaga pendidikan anak usia dini untuk membentuk pribadi anak yang mudah bergaul, mengembangkan kreatifitas menggali potensi yang ada pada anak sebelum memasuki ke sekolah dasar. Untuk kedepan agar para orang tua lebih memeperhatikan pendidikan dasar anak sebelum melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya.




 








MARI MENJADI KIDS ZAMAN NOW!!!
Sumber gambar :  http://islamidia.com


"Kids Zaman Now" sering dijadikan label untuk aktivitas, sikap, perilaku anak-anak zaman sekarang yang cenderung negatif, atau bahkan negatif sekali? Mungkin saja. Untuk itu mari mematahkan sikap, perilaku negative dengan menggebrak generasi “kids zaman now” yang berbeda.
Gaul boleh tapi sopan santun,. Adab dan etika kita sebagai anak Indonesia jangan dibuang kalau perlu malah ditambah. Di era yang serba terbuka, serba mudah, serba kritis bahkan tak jarang kasar dewasa ini, sudah sepatutnya generasi Millennial tampil terdepan sebagai pengusung “Generasi Millennial Cinta Tanah Air”.
Tidak susah untuk menunjukkan kecintaan kita pada tanah air. Dimulaila dari hal terkecil. Seperti sopan kepada yang lebih tua, menghargai pada yang lebih muda, buang sampah pada tempatnya, menyeberang menggunakan penyeberangan, berkata baik, berperilaku baik, dan seterusnya.
 Berperilaku baik itu sama dengan bela Negara? Ya bela Negara menurut Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Bapak Laksma Dr M Faisal SE MM adalah tidak harus ikut perang atau menjadi tentara, atau berlatih ala tentara.
Bela Negara bisa diwujudkan melalui rasa cinta pada sesama, rasa cinta pada yang lebih muda dan tua, sopan santun, tenggang rasa, toleransi dan seterusnya. Bela Negara juga dapat dilakukan sesuai dengan profesi kita masing-masing.
Yuk, jadilah "Kids Zaman Now" yang memiliki nilai positif, cinta tanah air dan budaya Indonesia. Jadilah generasi yang mampu membawa perubahan terhadap bangsa ini sekalipun hanya dengan sikap kecil.

Banyak yang bisa dilakukan untuk menjadi generasi millennial yang tetap Indonesia banget. Mencintai seni dan budaya, mencintai keindahan alam Indonesia dan melestarikan, bicara baik tentang Indonesia. Jika ingin berekspresi di media sosial, tak harus dengan hal negatif. Banyak hal positif dan inspiratif nya bagi yang melihat.